March 03, 2009

KENYATAAN DI DUNIA FANTASI

9:59 AM



ABSTRAK

Bertolak dari pengetahuan dan pemahaman saya tentang bangsa ini beberapa waktu terakhir, saya merasa sepertinya harus bertanya kepada kita semua, tentang beberapa hal. Sebagai kaum muda yang masih perlu banyak belajar tulisan ini sebenarnya terinspirasi dari sebuah lagu milik grup band rock - Koil yang berjudul Kenyataan dalam dunia fantasi. Dalam lagu tersebut, dapat saya interpretasikan bahwa mereka coba mengungkapkan tentang keadaan bangsa ini yang sebenarnya sedang mengalami kemunduran Nasionalisme. Kenyataan yang dipastikan, namun hanya dalam fantasi. Sederhanya dapat dikatakan bahwa bangsa ini sebenarnya sedang dalam kondisi yang tidak sehat­­ dan mungkin akan hancur karena terlalu banyak orang yang tersenyum kecut dalam kebencian. Dan memang bagi saya sudah menjadi pertanyaan yang butuh jawaban dan realisasi konkrit tentang masa depan bangsa ini yang sebenarnya. Tentang bagaimana bangsa ini seharusnya hidup! Tentang bagaimana seharusnya bangsa ini bertahan! Sebab harus selalu kita ingat, ratusan juta jiwa menggantungkan harapannya pada bangsa ini, termasuk saya. Dari situlah muncul beberapa pertanyaan tentang nasionalisme yang selalu dipuja bangsa ini yang sekarang rasanya sedang pudar!!!
Pertama, Dengan dasar Pancasila bangsa ini berdiri sebagai sebuah bangsa yang besar dari sisi luas wilayah, keanekaragaman suku dan budaya dan kekayaam alamnya. Satu hal yang saya ingat dari sejarah bangsa ini adalah kita pernah ditakuti oleh bangsa lain di dunia, bahkan oleh negara adidaya seperti Amerika Serikat. Namun sadar atau tidak kekuatan itu sepertinya berasal dari satu orang yaitu Soekarno presiden pertama Kita. Mungkin saya salah, tetapi bangsa ini sepertinya kehilangan taring ketika berhadapan dengan bangsa lain di dunia. Dan muncul pertanyaan dalam benak saya, apakah bangsa ini besar karena telah betul dimiliki oleh semua warganya? Ataukah besar dibesar – besarkan oleh segelintir orang saja yang sok nasionalis ?
http://kupangblog.blogspot.com/
Kedua, Negara ini adalah negara besar yang sejak saya SD sudah didoktrin ungkapan dari sabang sampai merauke dan Bhineka Tunggal Ika. Cukup kontradiktif nian karena ketika saya mulai SMA hingga sekarang kuliah, nurani saya terjebak dalam sebuah pertanyaan sarkartis tentang Pluralisme. (namun entah kenapa saya lebih senang menyebutnya dengan Multikultural) Saya sedikit kurang memahami makna Pluralisme bangsa ini, apakah hanya sebatas pada kenakeragaman Suku, Agama dan Ras yang dipersatukan melalui sebuah slogan Bhineka Tunggal Ika yang juga termuat di dalam UUD 1945? Ataukah Kesatuan Perbedaan ini perlu terealisasikan pada semua bentuk kebijakan negara, misalnya lewat persamaan Hak Ekonomi masyarakat di semua daerah, Kebijakan dalam Negeri menyangkut perbedaan tersebut ? Kebijakan Luar negeri yang mencerminkan penghargan terhadap perberbedaan dalam bangsa? Ataukah karena pluralisme bangsa, realisasi itu memperhatikan asas mayoritas dan minoritas ??!! Namun pertanyaan saya berikutnya adalah mayoritas dan minoritas yang seperti apa yang menjadi tolak ukurnya? Apakah agama, suku, RAS, status ekonomi, atau mungkin kepentingan golongan atau kalangan tertentu ??
Ketiga, Indonesia diproklamirkan merdeka sebagai negara berideologi Demokrasi Pancasila, yang menurut pengerti­­­­­­­­­­­­­an saya keduanya merupakan satu kesatuan yang berarti bahwa pancasila adalah dasar utama negara ini dengan didukung Demokrasi sebagai dasar pelaksanaan negara. Akan tetapi, ada beberapa hal yang kemudian mengganggu saya, mungkin kita semua sadar bahwa beberapa tahun belakangan ini banyak bermunculan kelompok kepentingan dengan paham dan tuntutannya masing – masing! Dan saya sebagai warga negara Indonesia, cukup merasa terganggu dengan tuntutan mereka yang sebenarnya sudah cukup mengganggu keberadaan Pancasila sebagai dasar negara. Apalagi pemerintah dan lembaga legislatif bahkan terkesan menggunakan paham tertentu dalam membuat peraturan daerah, peraturan pemerintah bahkan Undang-Undang dan heranya hal tersebut dianggap biasa – biasa saja!!! Pertanyaan saya adalah, apakah hal tersebut merupakan sebuah bentuk pelanggaran atau mungkin bisa dikatakan sebagai pelecehan terhadap Pancasila dan UUD 1945 ? Ataukah cukup dianggap sebagai dinamika dan suatu kewajaran dalam kehidupan sebuah bangsa yang Plural ?!! Sungguh alasan yang dibuat – buat.
Keempat, Di negara ini, dalam beberapa tahun terakhir seperti yang saya ketahui ditengah kekurangan referensi saya menyangkut para pelaksana tugas negara yang sepertinya sangat Loyal dengan kelompok kepentingan (partai politik) dari mana dia berasal yang justru menguranggi komitmen melayani dan memberdayakan masyarakat. Satu hal yang cukup menarik perhatiaan saya adalah, mungkin karena kepeduliaan yang boleh saya katakan minim terhadap masyarakat maka munculah kelompok – kelompok kepentingan lain yang sepintas suaranya lebih tegas dari pemerintah dan didengar oleh masyarakat. Pemerintah seolah tak berdaya dan terkadang meminta bantuan dari kelompok – kelompok tersebut!!
Kenyataan – kenyataan yang telah dipaparkan di atas menurut saya perlu dijawab, bukan oleh saya sendiri tetapi oleh kita semua, yang selalu berbangga sebagai anak yang lahir dari rahim peritiwi. Memang, tak mungkin kita pungkiri bahwa sejarah telah membuktikan kalau bangsa ini besar dan kaya. Meski demikian, sejarah adalah masa lalu yang bisa saja termakan waktu dan berbeda dengan konteks kita saat ini. Masa sekarang adalah kenyataan, kenyataan yang akan menentukan masa depan besok, lusa dan nanti… Apalagi sebentar lagi kita akan sama – sama berpesta dalam arena demokrasi untuk memilih wakil rakyat dan presiden kita secara langsung. Saya hanya takut kalau-kalau janji akan tetap tinggal janji dan bangsa yang mengakui pluralisme akan tetap dalam fantasi. Ketakutan saya dan mungkin ketakutan kita bersama adalah jangan sampai biaya politik yang digelontorkan secara besar-besaran untuk pemilu nantinya tidak berbuah manis dan malah menimbulkan konflik sebagaimana sering terjadi pada ajang Pilkada di beberapa daerah di Indonesia. Orang berdasi mungkin tidak merasakan langsung dampaknya, tapi para buruh, para pemulung, petani dan nelayan yang adalah masyarakat miskin tentu akan terus membusung dadanya, merintih tak berdaya oleh kepicikan para cukong. Yah…kemiskinan mereka yang sebenarnya dibentuk oleh sistem selamanya akan tetap diproyekkan dalam janji politik yang tak bertanggung jawab. Apakah selamanya rakyat akan dijadikan obyek poltiik semata?? Entah lah!! Yang jelas, jangan mengusik ketenangan mereka, bila anda yang berdasi tak ingin digerayangi oleh nyanyian “kenyataan dalam dunia fantasi” atau lebih parah lagi……dibom dalam gerylia revolusi jilid 3.
Terima kasih.

Written by

Komentarnya kami tunggu! Kami juga menyediakan layanan edit blog, desain web dan video invitation

0 komentar:

 

© 2013 Undermind. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top